3 Pekan Dirawat Setelah Diselamatkan dari Kubangan, Bayi Gajah Inong Akhirnya Mati



KASUSMEDAN -  Balita gajah liar Sumatera berjenis kelamin betina yang ditemui terjebak di kubangan lumpur, kesimpulannya mati. Binatang dilindungi ini pernah menempuh perawatan sepanjang lebih kurang 3 minggu di Pusat Konservasi Gajah( PKG) Saree, Aceh Besar, semenjak dievakuasi pada 12 Februari 2021 kemudian.

Kepala Balai Konservasi Sumber Energi Alam( BKSDA) Aceh, Agus Arianto, dalam penjelasan tertulisnya, Jum’ at( 5/ 3/ 2021) berkata, balita gajah yang diberi nama Inong itu mati pada Rabu( 03/ 03/ 2021) pagi.

Dikala diselamatkan dari kubangan lumpur, balita gajah itu dikenal masih berumur 3 minggu.

“ Gajah Inong ialah balita Gajah Sumatera betina yang diselamatkan dikala terjebak dalam kubangan di Desa Panton Bunot, Kecamatan Tiro, Kabupaten Pidie.

Dikala dievakuasi Ke PKG Saree, Inong dalam kondisi sangat lemah, malnutrisi,” kata Agus. Tidak hanya kondisinya lemah, gajah Inong pula hadapi cedera pada kedua bola mata dikala diselamatkan.

Balita gajah itu pula hadapi dislokasi pada kaki depan dan kelumpuhan pada kaki balik serta prolapsus pada pusar serta kelamin. Bagi Agus, dikala urinasi balita gajah itu meronta kesakitan serta urine bercorak kemerahan.

Saat sebelum mati, gajah malang ini menempuh sebagian penyembuhan ataupun perawatan spesial buat menolong kurangi rasa sakit, serta penyembuhan cedera peradangan.

Pula diiringi dengan melatih memicu otot- otot dan persyarafan balita gajah dengan memakai perlengkapan bantu topang.

Konsumsi nutrisi berbentuk susu resep selaku pengganti ASI pula diberikan dengan memakai selang infus yang dimodifikasi supaya susu terhisap lama- lama sehingga binatang tidak tersedak apabila minum.

“ Sehabis dicoba perawatan secara intensif sepanjang sebagian hari, keadaan cedera pada mata serta prolapsus mulai membaik kecuali mata kiri yang masih belum berperan.

Warna urine mulai wajar serta kuping kiri binatang mulai bergerak dari yang tadinya tidak bergerak sama sekali,” jelas Agus.

Tetapi nasib mengatakan lain, pada 01- 02 Maret 2021 keadaan kesehatan binatang tersebut kembali menyusut meskri regu kedokteran senantiasa terus berupaya melaksanakan treatmen.

Lebih lanjut Agus menarangkan, dari hasil nekropsi( bedah bangkai) yang dicoba oleh regu kedokteran BKSDA Aceh, ialah drh Rosa Rika Wahyuni MSi, drh Ridwan, serta drh Rika Marwati, diperoleh hasil kalau organ jantung membeku serta bilik atrium kiri hadapi penebalan sehingga menyebabkan penyempitan ruang atrium kiri serta jantung kesusahan memompa darah.

BACA JUGA : Seorang Pria Tega Perkosa Gadis 13 Tahun di Hotel Tempat Karantina Covid-19


“ Tidak hanya itu, kendala pada sistem pencernaan di mana ditemui hemoragi pada penggantung usus( mesentrium), Abmormalitas pada tulang kaki serta persendian kaki depan kiri sebab dislokasi.

BKSDA Aceh mengucapkan terima kasih kepada regu kedokteran BKSDA serta PKSL Unsyiah yang sudah melaksanakan upaya optimal dalam perawatan balita gajah Inong ini,” pungkas Agus.

Gajah Sumatera( elephas maximus sumatranus) ialah salah satu tipe binatang liar yang dilindungi di Indonesia bersumber pada Peraturan Menteri Area Hidup serta Kehutanan No P.

106/ MENLHK/ SETJEN/ KUM. 1/ 6/ 2018 tentang Pergantian Kedua atas Peraturan Menteri Area Hidup serta Kehutanan No P. 20 MENLHK/ SETJEN/ KUM.

1/ 6/ 2018 tentang Tipe Tanaman serta Binatang Liar yang Dilindungi. Bersumber pada The IUCN Red List of Threatened Species, binatang yang cuma ditemui di Pulau Sumatera ini berstatus Critically Endangered ataupun spesies yang terancam kritis, berisiko besar buat punah di alam liar.

BKSDA Aceh menghimbau buat silih melindungi kelestarian alam spesialnya binatang liar Gajah Sumatera.

Perihal itu dapat dicoba dengan metode tidak mengganggu hutan yang ialah habitat bermacam tipe binatang, tidak menangkap, melukai, menewaskan, menaruh, mempunyai, memelihara, mengangkat serta memperniagakan binatang yang dilindungi dalam kondisi hidup maupun mati.




 

Posting Komentar

0 Komentar